Walking on My Own Path
Buru-buru itu emang ngejar apa, sih?
Sebenernya, gua udah rencana untuk nulis dari kemarin, setelah gua memutuskan untuk melanjutkan nulis skripsi dengan lebih tenang, pelan, dan santai. Tapi, ternyata semalem telfonan sama CIKIF sampe setengah 12 malem.
Dan pagi ini, video DK Seventeen lewat, dan dia bilang (dalam bahasa Korea, dan ini terjemahannya):
"You wont be late if you walk slowly, right? Everyone's and path are different. I guess, each and everyone spends different time to walk. I don't think being late is something bad. The one who goes slower may enjoy the landscape and views around. When you go slower than others, you can see things that other miss, I believe so. I guess, I don't rush when I do something. I like to do things slowly, one by one. That's why I like this phrase that 'you wont be late even if you walk slowly'. I thought it was so nice. So I wanted to read it for you. Going fast is not always good, if you arrive earlier than others, it may be nice. But going slower than others is not something wrong. I want to say you're doing fine. Because your walking in your own path"
(Woi? kayak pas banget nih timingnya)
Sejak awal skripsi, setelah sempro lah, ya, gua masang target untuk selesai di 30 November. Pokoknya, gua mau bisa selesai (Insyaa Allah) sebelum 2027. Tapi, ketika balik kesini (UNIDA), tiba-tiba terbit edaran dari fakultas kalau untuk bisa ujian di awal November itu terakhir daftar di 22 Oktober, dan gua merasa mampu, sih hehehe.
Tapi, setelah sekitar 1 bulan ini, gua ternyata masih bingung tentang apa aja yang gua harus bahas di bab 3 gua. Beberapa kali gua ganti outline dan alur bab 3-nya. Smape akhirnya 2 pekan lalu gua nemu outline yang pas, dan mulai lah gua untuk nulis. Seperti sebelumnya, nulis diawal itu emang susah dan bingung, karena masih harus menerka-nerka pola penelitian. Tapi, akhirnya gua trabas aja tulis.
DAN, ya, gua nulis dengan terget, dan rasanya kayak buru-buru banget, jadinya kayak "asal selesai". Setelahnya, gua cek kalender di planner gua, dan apa? pekan ini udah masuk Oktober. Disitu gua langsung minder dan gak yakin bisa selesain semua ini. Ternyata ada begitu banyak juga administrasi yang harus gua urus sebagai syarat sidang skripsi. Tahfidz, proofreading yang butuh waktu itu, dan beberapa urusan di fakultas. Dan itu semua makan waktu yang gak sedikit. Gua langsung pesimis banget.
Tapi saat itu, gua masih ngotot ke diri gua sendiri kalau gua bisa daftar di 22 Oktober nanti. Gua akhirnya chat semua orang buat minta do'a semoga gua bisa selesai dan daftar di Oktober.
Sampe akhirnya, kemarin (29/9), gua seperti biasa mau lanjut nulis di sub-judul 3.1.4, rangkaian akhir dari sub-judul 3.1. Dan ketika udah nulis satu paragraf, gua ngerasa hampa. Tulisan gua di seluruh bab 3 ini hampa banget, dan analisanya terlihat dan terasa dipaksakan. Beda sama bab 2 gua yang (menurut gua) udah lebih jalan analisisnya dan mengalir. Di bab 3 (kira-kira gua udah nulis 3 halaman) itu datanya sedikit, dipaksa, buru-buru. Sama sekali gak memberikan "rasa puas".
Gua akhirnya merenung, baca ulang bab 1, 2 dan 3, dan bertanya-tanya, "Harus banget ya seburu-buru ini?", "Emang kenapa sih buru-buru banget? Emang lu dikejar apa, sih sampe sebegininya?"
Emangnya buat apa buru-buru?
Lagian, gua juga (kalau tetep seburu-buru ini) gatau ujian atau halangan apa yang ada di depan sana (naudzubillahmindzalik). Belum lagi drama mood, absen bimbingan, revisi, dll. Banyak banget. Pun semisal selesai, masih ada drama birokrasi ketika ngurus administratif, kan?. Minta ttd, nunggu approval, translate, dll. Banyak banget. Terus, apa semua harus dilakukan serba gedebak-gedebuk? Pengen banget ya cepet ninggalin pondok dan UNIDA? Katanya mau bikin vlog campus tour dulu, kalo cepet-cepet, kapan campus tour-nya?
Akhirnya, kemarin gua berhenti nulis sejenak, mikirin semua ini, dan baca ulang seluruh bab 1 dan bab 2 gua. Dan bener aja, terlalu banyak hal yang miss atau terlewatkan di bab 3 yang udah gua tulis. Lagi-lagi karena terburu-buru.
Gua memutuskan untuk berhenti dulu, dan baca ulang, juga lebih banyak belajar ulang. Terus terbesit, lagian, gua harus tetep inget "Kalau udah tertakar, ga akan tertukar". Kalo emang Allah takdirkan ada rezeki gua untuk daftar sidang di 22 Oktober itu, gua pasti sampe kok kesana, gimana pun caranya. Kalau belum rezeki? Ya rezeki itu ada di waktu yang lain. Hikmahnya, gua bisa nulis dengan lebih santai, dan punya lebih banyak waktu untuk nanti urus administrasi sidang dan yudisium dengan lebih mindful, juga lebih menikmati hari-hari terakhir gua di pondok ini dengan tenang. Mungkin, rezeki Abi dan Umi untuk nanti gua cargo barang-barang gua juga masih nanti. Intinya, rezeki ga akan salah sasaran dan salah timing.
Rasanya kayak Allah jawab kesombongan gua kemarin dengan halus, dan ga disangka-sangka bakalan se-awal ini (sebelum gua makin banyak nulis yang hilang arah itu). Gua sama Vany (room mate gua) bikin mading di kamar, yang awalnya gua nulis "Trust Allah's Timing", tapi karena gua (saat itu) ngotot mau daftar sidang di Oktober, gua ganti jadi "Cheers to Youth" dengan maksud gua harus memanfaatkan waktu masa muda ini dengan jor-joran dan penuh semangat muda. Ternyata salah, hahaha. Allah bilang, "Mau gimana pun kamu berjuang, kamu harus tetap percaya dengan takdir-Ku."
Astaghfirullahaladzim..
Rasanya kayak Allah bener-bener negur gua lewat perasaan gak tenang selama nulis.
Terima kasih ya Allah,
Hamba semakin percaya jika timeline-Mu tidak akan pernah salah.
(30/9/2026, last day as a 22 y.o. teenager)
Komentar