Cerita Idul Fitri 1445 H
Rasanya lega sekali setiap kali
lebaran terlewati tanpa kekurangan satupun anggota keluarga, rasanya seperti “Aahh,
Alhamdulillah tahun ini bisa fullteam”. Apalagi bagi gua -dan banyak
perantau lainnya- yang harus menghabiskan lebih banyak waktu jauh dari
keluarga, jauh dari kampung halaman. Gua yakin setiap orang pasti punya
kekhawatiran yang sama; takut ada yang hilang di lebaran selanjutnya. Apalagi
bagi perantau yang hanya punya waktu sedikit bersama keluarga.
Membayangkan
kembali perasaan saat packing barang-barang untuk pulang rasanya rindu
sekali, ingin segera mengulang hal yang sama. Malam terakhir di perantauan pun
dilalui dengan perasaan bahagia “malem terakhir tidur disini, besok sudah
dirumah, besok malem sudah tidur dirumah” sambil membayangkan euforia rumah
yang sebentar lagi akan didatangi.
Gua
adalah tipe orang yang membawa se-minimal mungkin barang kerumah karena yakin
bawaan dari rumah ke perantauan akan lebih banyak. Toh, dirumah juga ada
segalanya tanpa harus dipikirkan; baju, alat mandi, makanan, dan kasih sayang 😂. Jadi biarlah pakaian dan perintilan yang ada
diperantauan ditinggal dengan rapih dan digantikan dengan pakaian dan
perintilan rumah agar lebih terasa euforia dan hawa rumahnya. Gua selalu mulai
bersih-bersih, nyuci, dan mensortir barang-barang maksimal 3 hari sebelum
pulang, jangan sampai ada yang terlewat, tercecer, dan tertinggal kotor. Cucian
baju kotor mulai dicuci, buku-buku mulai ditata, lemari mulai dibersihkan dan
diberi kamper. Ini hanya terjadi setahun 2 kali, harus dinikmati prosesnya
dengan baik, hehehe.
Gua
selalu berusaha untuk tidak membawa baju kotor pulang kerumah kecuali yang
digunakan saat pulang. Misal berangkat malam, baju yang dipakai hari itu adalah
baju yang akan dibawa pulang, dan baju yang kemarin langsung dicuci hari itu
juga. Karena biasanya jemur pagi sore sudah kering dan sudah bisa dimasukkan
kedalam lemari untuk ditinggal.
Buka
puasa dirumah dengan makanan yang ‘layak’ dan bisa ‘by-request’ itu yang
paling gua tunggu. Bisa minta dan memilih makanan untuk buka puasa itu nikmat
sekali setelah merasakan puasa jauh dari rumah dan apa-apa serba terbatas. Gua
hampir setiap berbuka selalu videocall orang rumah untuk ngeliat orang
rumah hari ini buka puasa pakai apa yang selalu memicu semangat gua untuk
cepet-cepet pulang kerumah.
Dipikiran
hanya ada :
Rumah,
rumah, rumah
Dan
orang-orang didalamnya yang lebih dari sekedar rumah bagi gua.
Duh
nulis ini jadi mau pulang lagi 🥺🥺
Sejauh
ini, rumah memang hanya ramai kalau Ramadhan dan awal Syawwal saja. Karena
hampir semua sudah pesantren dan jauh, momen untuk kumpul juga hanya Ramadhan,
selebihnya biasanya beda jadwal. Umi kalau sudah dipuncak kerinduan ke
anak-anaknya biasanya selalu memutar lagi Ramadhan-Maher Zain, karena selalu
terbayang ramainya rumah saat Ramadhan. Meski cucian menumpuk bagai gunung,
tapi justru itu tanda buah hatinya berkumpul dirumah.
Duh,
nangis banget nulisnya 😭
Daripada
menunggu Idul Fitri, gua lebih berharap Ramadhan berjalan dengan lambat dan
lama, karena Idul Fitri adalah tanda segera berakhirnya kebersamaan dirumah,
tanda sebentar lagi akan pergi lagi satu-persatu ke perantauan. Tanda sebentar
lagi rutinitas akan kembali seperti biasa dan rumah kembali sepi sampai bertemu
Ramadhan berikutnya.
Seperti
yang gua ungkapkan diatas, rasanya bersyukur dan lega sekali kalau foto Idul
Fitri tahun ini dihiasi dengan perasaan senang, bahagia, haru dan tanpa
kekurangan apapun. Rasanya ingin berlama-lama, karena kekhawatiran atas hal-hal
yang tidak diharapkan kembali muncul ketika Idul Fitri selesai,
“Idul
fitri tahun depan bisa kayak tahun ini lagi gak, ya?”
“Idul
fitri tahun depan suasana kayak gini lagi gak, ya?”
“Gimana,
ya foto idul fitri tahun depan?”
“Tahun
depan fullteam gak, ya? Apa ada yang gabisa pulang?”
Dan
banyak lagi...
Bahkan
suasana setelah lebaran ketika sudah ada satu kasur yang kosong saja rasanya
sakit sekali, rasanya mau nangis, rasanya sedih dan kurang. Itu baru gua yang
ngeliat satu kasur kosong, bagaimana Umi dan Abi yang ngeliat sampai semua
kasur kosong? Rasanya gak rela sekali pasti. Apalagi hal itu adalah gambaran
atas masa depan yang pasti, ketika anak-anaknya sudah punya hidupnya
masing-masing, sudah punya keluarga lain yang juga jadi prioritas. Nangis
banget 😭😭.
Panjang
umur, ya Umi Abi 🫶🏻❤️
Dan
tahun ini, semua momen itu sudah berlalu.
Selalu
ada keindahan tersendiri di setiap tahunnya, selalu ada perasaan tersendiri di
setiap tahunnya.
Semoga
di tahun-tahun berikutnya akan terus indah, aamiin.
Terima
kasih yaa Allah atas Ramadhan tahun ini dengan segala kedamaiannya,
keindahannya, kebersamaannya, kehangatannya yang terjadi karena limpahan kuasa
dan rahmatMu.
Semoga
tahun-tahun selanjutnya akan tetap seperti ini bahkan lebih indah.
Aamiin.
Mantingan,
[24/4/2024;
8:47 PM]